Jumat, 25 Mei 2012

1000 Lampion di Borobudur

Eh, kemarin waisak itu tanggal berapa yak? #liatkalender.
Oh ya, waisak tahun ini jatuh pada malam senin, tanggal  6 Mei 2012 yang lalu. Dengar-dengar sih, malam puncak waisak di Borobudur tiap tahunnya meriah banget. Apalagi pas siangnya kami liat berita di TV, yang katanya di Borobudur bakal ada acara waisak yang meriah ditambah dengan akan diterbangkannya 1000 lampion ke langit.
Awalnya kami yang malas-malasan pergi, jadi semangat 69, eh semangat 45 untuk berangkat kesana walaupun kondisi fisik kami yg sama2 lagi mengidap flu alias sindrom hacyim. Finally jam 2 siang kami berangkat, hanya dengan membawa persiapan jaket dan sebotol air minum. Kebetulan kali ini motor matic milikku yang dipake biar gantian kalo pongky capek aku bisa gantiin dia nyetir. Namun kesialan menimpa kami, perjalanan kami tak henti-hentinya diguyur hujan sampai magrib, selain itu ban motorku tiba-tiba kempes di Ambarawa. hiks. untung saja sekitar seratus meter dari tempat kejadian perkara, ada tambal ban yg buka 24 jam. Alhamdulillah.
Sekitar jam 8 malam akhirnya kami sampai ke Magelang, tepatnya Borobudur. Pas kami baru sampai, sedang diadakan upacara penutupan. Tentu saja kami lebih memilih untuk hunting-hunting foto daripada memperhatikan prosesi dengan saksama.
penampakan borobudur tampak depan
Brorobudur tampak belakang. Jadi acaranya di sebelah belakang brobudur :D

Ini dia acara penerbangan lamppion ke langit. Konon, kalo nerbangin lampion sambil  membisikkan keinginan dalam hati, keinginan kita bakal terwujud.
Btw, lampionnya nggak gratis lho. Satu lampion harganya 100ribu.
Karena emang lagi bokek, kami cuma ngeliatin orang-orang sambil mangap-mangap karena takjub akan keindahan langit malam itu. Eh nggak segitunya sih. pongky sibuk mengambil foto dengan kamera DSLR kesayangannya. gak pake mangap-mangap.hehe



Waw, romantis yaaa...

  Nah, kami pulang jam 2 malam. Untung saja disana bertemu dengan salah seorang teman pongky, jadi bisa diajak pulang barenag alias konvoi. Kami menerobos malam hampir pagi yang sangat dingin itu dengan nekat. alhasil, besoknya kami mengalami flu berat.

Kamis, 24 Mei 2012

Melancong ke Bau bau dan Wanci

Kali ini kami tidak akan memaparkan detil perjalanan ataupun itinerary dari perjalanan nekat kami ke dua pulau di Sulawesi tenggara, yaitu Bau-Bau /pulau Buton dan pulau Wanci. Tapi hanya menuliskan momen-momen tak terlupakan ketika kami melakukannya.
Mulai dari naik kapal Tl. Tilongkabila dari Makassar-Bau Bau yang memakan waktu hingga 22 jam. Dan ternyata di teras kapal itu, banyak banget coro berterbangan gangguin kami. Hiiiiihh... #pentinguntukdiingat.
Ini foto di kaca jendela kapal Tilongkabila. Lha, fotonya kebalik!
Sesampainya di Bau-Bau....tarraaaa.....!!!!
mandi pagi di pemandian air terjun Bau Bau. Sejuknya tiada tara!

pantai Nirwana, Bau Bau => surga dunia!

Astapirulloh, dua makhluk macam apa ini????

cowo: neng, ayo kita pelukan?
cewe: ogah, situ gelap!
wkwkwkwk
Nungguin pongky solat jumat di masjid raya Bau Bau. Foto ini kuambil dari warung makan ikan tepat di depan masjid.

pelancong sejati kita. #eeaak.
Kemudian, di perjalanan menuju Wanci:
Ini dalam kapal kayu  menuju Wanci. Aku difoto pas lagi tidur nyenyak diantara onggokan penumpang2 lainnya. Ada yg bilang, ini foto ikan buntal yg terdampar. Sial.
Oh ya, perlu diiingat, waktu ngobrol2 disini dgn seorang penumpang yg ternyata orang wanci juga, pongky gak berani dekat2 sama dia. pongky jg bisikin aku,"cantik2 mulutnya bau bangke!"
Sampai di wanci: ini dia lokasi snorklingnya!

Ihirrr, berasa lagi honeymoon yak... :D
Btw nanti honeymoon enaknya kemana nih? ahahahaa...

Nimbrung bakar-bakaran jagung sama orang2 pesisir Wanci. Dasar pongky, kerjaannya makan terus.untung gak gendut2 deh.

asyiiiik, foto di pelabuhan wanci dikala senja... pongky emang berbakat jd fotografer keren deh pokoknya.
Indah banget kan? tapi sayang, perjalanan kita cuma sampai disini, nggak berlanjut ke gugusan pulau Wakatobi lainnya yaitu Kaleduppa, Tomia, Binongko. Karena waktu dan budget yang terbatas, dengan berat hati kami kembali ke alam kami yang sebenarnya. Mungkin suatu hari nanti, kami akan kembai kesini dan seluruh kepulauan WAKATOBI dengan waktu dan budget yg berlebih. Dan kami nggak cuma berdua lagi ;D

Minggu, 15 April 2012

Pulau Samalona dan Sekitarnya

Hari kedua di Makassar, adalah hari dengan destinasi utama Pulau Samalona. Pulau ini terletak tidak terlalu jauh dari kota Makassar. Untuk menuju kesana kami melewati jalan di tepi pantai Losari. Lurus aja dari sana, berhenti di depan benteng Kuto Besak, kami memarkirkan mobil dan berinteraksi dengan para penawar jasa speed boat untuk bolak-baik ke pulau Samalona dan sekitarnya.

 Naaah, ini dia perahu cepat yang kami sewa. Sekitar setengah jam mengarungi lautan, kami tiba di pulau Samalona. Tapi, ups, ternyata bukan Pulau Samalona yang menjadi destinasi utama kami. Di pulau ini kami cuma mampir pinjem peralatan snorklingan.
 Setelah berinteraksi dengan para penyewa di pulau Samalona, kami melanjutkan perjalanan ke Pulau Tak Berpenduduk, yang namanya... emmm, pulau Kondingarekeke kalo nggak salah. Ini dia destinasi utama kami. :D
 Happ. Sampai deh di pulaunya! Tidak jauh beda dengan Samalona, pasir putih dan air yang jernih disini membuat ekosistem di bawah lautnya dapat dengan mudah dinikmati dengan snorkling. Ada banyak ragam hewan dan tumbuhan air yang dapat dijangkau dengan melayang diatas air yang dalamnya cukup dibawah satu meter. What a paradise!
 Oh ya, siapa bilang pulau ini tak berpenghuni? 4 ekor sobat kecil kita ini adalah satu-satunya penghuni yang paling bersahabat. Mungkin mereka adalah kucing-kucing yang diasingkan, perut mereka kurus kerempeng karena kelaparan. Dengan nada eongan memelas mereka meminta makan pada kami. Oh, sungguh makhluk yang malang...
 Ini dia diver handal kita, Pongky. Entah lagi pose ala apaan dia...
 Sementara aku, hanya melihat-llihat dari tepi sambl hunting-huntung foto. Aku sih nggak ikut nyelam, maklum, lagi dapettt.... hehehe.... terserah mau percaya atau tidak.

Sekian dulu dokumentasi perjalanan kami kali ini, tunggu postingan-postingan selanjutnya ya. ;D

Trip to Bantimurung, Sulawesi Selatan

Bulan Januari lalu, aku dan Pongky ketemuan di Makassar. Aku terbang jauh sekali dari Semarang, dan Pongky bersama teman-temannya naik bis dari Soroako. Dengan penuh tekad dan keyakinan, rencana travelling yang gila ini aku laksanakan.
Sesampainya di Makassar, aku langsung dijemput di bandara Sultan Hassanudin dengan Avanza yang dirental Pongky dan teman2 yang kebetulan sampai duluan ke Makassar. Seusai makan siang di bandara, kami segera menuju destinasi pertama yang terletak di Kabupaten Maros, keluar sedikit dari kota Makassar, yaitu kawasan Taman Nasional Bantimurung. Namun sial, hujan terus saja mengguyur membuat kami tidak leluasa menikmati keindahan Bantimurung. Jadinya kami nyewa payung warna-warni, sok-sok romantis gitu deeehh... 
 Selain dikenal dengan kerajaan kupu-kupu, Bantimurung juga punya air terjun yang indah dan dijadiin sebagai objek buat main seluncuran. Biasanya orang-orang menggunakan ban karet untuk berseluncur dari derasnya air terjun. namun lagi-lagi sayang, musim hujan ini membuat debit air menjadi sangat deras, sehingga tidak banyak yang berani main-main disini.
 Puas dengan air terjun, kami berjalan menyusuri jalan setapak panjang yang mengantarkan kami ke sebuah gua yang bernama gua batu. konon gua ini adalah tempat persembahyangan para petua jaman dahulu kala.
Untuk sekian kalinya, sayang seribu kali sayang, perjalanan kami di Bantimurung hanya sampai disini. Padahal masih banyak ekowisata lainnya yang belum kami jelajahi disini. Yaitu taman kupu-kupu yang berada di lembah bukit kapur serta puluhan gua-gua lainnya.

nah, ini di gerbang Taman Nasional Bantimurung. Lihat aku sendiri yang gak mau kompak berpose seperti monyet. Tapi Pongky tetep maksa aku berpose monyet. ckck
Ini juga gerbang utama. Anyway, sebenernya disini kami masih grogian lantaran udah lama banget gak saling ketemu. Haha, goblok yak!

Kembali ke kota Makassar!!
Berhubung hari sudah malam, setelah shalat maghrib adalah waktunya untuk makan malam. Dan menu makan malam perdana kami di Makassar ini adalah Konro Karebosi. Dari namanya aja udah ketahuan kalo ini makanan enak. Sluurrrpp... yummy!! Oke. Jadi sop konro karebosi ini adalah salah satu kuliner yang sangat terkenal di makassar. dengan merogoh kocek sekitar 30ribuan, kita sudah bisa menikmati satu porsi besar sop karebosi yang isinya daging+iga kambing dgn kuah yang sangat menggairahkan. :D

Minggu, 27 November 2011

Kuliner Khas Sulawesi Selatan


Es Palubutung

Kapurung


Buah Dengen
Seperti halnya daerah-daerah lain di Indonesia, Profinsi Sulawesi Selatan juga memiliki bebagai macam kuliner khas. Diantaranya yang paling terkenal dan paling sering kita dengar seperti Coto Makassar, Es Palubutung, dan Es Pisang Ijo. Tetapi ternyata makanan khas Sulawesi Selatan bukan Cuma itu. Masih ada begitu banyak yang belum terungkap. Misalnya seperti Kapurung, Ogos-ogos, Sop Combro, Roti Maros, Buah Dengen, dan masih banyak lagi yang lainnya. Ternyata bukan Cuma makanannya saja yang unik-unik, tetapi cara makannya pun unik.
Dari sekian banyak koleksi kuliner yang dimiliki Sulawesi Selatan, makanan yang paling sering saya makan ya Coto Makassar sama Es Pisang Ijo. Bukan apa-apa karena memang mereka berdualah yang gampang ditemui di Jawa, tepatnya di Semarang dimana saya tinggal. Dulu saya pikir Coto itu sama dengan Soto, tapi orang Sulawesi salah tulis huruf “S” jadi “C”. Ternyata dugaan saya salah, Coto itu ya bener-bener Coto, CE O TE O, bukanny ES O TE O, ya meskipun bentuknya agak mirip dengan Soto. Oh iya, saya juga pernah ngerasain tuh ama yang namanya Es Palubutung, pertamanya sih aneh. Secara es ko bentuknya bubur gitu, tapi ternyata rasanya boleh juga. Apalagi pertama kali makan es species ini dibuatin langsung sama kekasih saya tercinta. Hmmmmnnnn rasanya tidak usah ditanyain deh. Kalau kata Mario Teguh mungkin “Zuper sekaliii”. Hahaiiii. Selama tinggal di Sulawesi Selatan saya juga sempat beberapa kali makan es ini, tapi tetap saja tidak seenak es yang pertama kali saya makan.
Makanan selanjunya yang unik adalah Kapurung. Makanan ini terbuat dari sagu (salah satu makanan pokok di Sulawesi Selatan) dengan kuah ikan segar, sayur-sayuran, dan juga ikan (lagi) yang masih utuh tentunya, serta bumbu yang begitu khas, sayangnya saya tidak tahu pasti jenisnya. Cobain sendiri aja deh!. Rasanya sih enak menurut saya, tetapi saya belum pernah tuh bisa ngabisin satu porsi Kapurung sekaligus. Karena sagunya bikin jengah di lidah dan juga porsi makan orang di tempat saya biasa makan Kapurung memang rata-rata porsi jumbo. Adalagi makanan namanya si Gogos yang terbuat dari ketan yang dibungkus dengan daun pisang kemudian dibakar. Terahir disajikan dengan saus tomat tradisional yang segar. Boleh juga sih buat penghangat badan.
Mengenai cara makan, orang-orang di Sulawesi Selatan juga mempunyai keunikan tersendiri. Kalau menurut saya sih mereka cenderung boros soal tempat makanan. Setiap kali mereka makanan setidaknya butuh empat tempat makanan sekaligus. Sebuah tempat nasi (biasanya dari bakul plastik atau rotan), satu mangkuk untuk sayur, satu piring berisi lauk pauk, dan terahir satu piring khusus untuk eksekusi makan. Belum lagi kalau ditambah tempat cuci tangan di mangkuk plastic dan sambal yang juga punya tempat sendiri. Haduh betapa ribetnya saya pikir. Bayangkan saja ketika kita makan berlima dengan teman-teman kita. Maka di atas meja akan ada 20 tempat makan plus 5 mangkuk cuci tangan, belom lagi gelasnya. Kalau yang terbiasa hidup di jawa seperti saya sih, ini jarang terjadi, yang menyediakan tempat makan sebanyak itu dalam sekali makan paling di tempat makan tertentu saja yang biasanya harganya lumayan mahal. Atau bahkan saya lebih sering makan dicampur sekaligus dalam satu piring. Nah orang di sini (baca di Sulawesi Selatan) setiap makan di warung tempatnya sebanyak itu. Ada beberapa pengecualian sih, misalnya kalau makan Coto Cuma pakai 3, makan nasi goreng Cuma 1 piring.
Kalau sekedar makan dengan porsi jumbo, harga yang lebih mahal, dan tempat makan seabrek aja si bukan masalah. Ternyata mereka juga mempunyai keunikan lain soal makanan. Misalnya saja saat makan pisang goreng, dan goreng ubi yang sudah manis. Eh mereka makannya pakai sambal yang puedes. Pkoknya semua jenis goreng-gorengan pasti berdampingan dengan sambel, ya pisang, ya singkong, ubi jalar, yayaya yang lain. Tidak seperti di jawa yang beberapa item gorengan saja yang wajib pakai sambel. Mereka juga suka makan buah Dengen (buah khas yang mudah ditemui di sekitar Danau Matano yang rasanya asem) dengan kecap. Bayangkan saja makanan asem diceburin ke kecap baru dimakan. Kata mereka sih enak. Dan sayapun mengiyakannya meskipun agak sungkan juga memakannya.
Berikutnya saya tahu kalau ternyata mie instan yang beresar di Sulawesi Selatan berbeda dengan mie yang ada di jawa. Mie di sulsel kalau mie goreng sausnya berbentuk bubuk berbeda dengan di jawa yang berbentuk cair seperti saus pada umumnya. mungkin agar lebih awet sehingga sausnya berbentuk bubuk. Satu-satunya makanan yang tidak bikin saya protes ya makan Sop Combro. Asli rasanya enak pake banget. Meskipun saya tidak tahu ke-original-an makanan itu berasal dari sulsel. Tapi sebenernya sih saya pengen mencicipi semua makanan itu bersama pacar saya Cora. Hikz. Pasti rasanya berkali-kali lipat lebih enak kalau makannya bareng diaa. Ayok Coraaaa saya tunggu kamu di Sulawesi Selatan. Terus Kewakatobi dll. Ayooo poncoltravelmates EKSIS lagiii....

Rabu, 05 Oktober 2011

JIKA PACARAN=KULIAH

Pongkykuygbaik, ijinkan saya menggalau sejenak di postingan ini yaa...


Jika pacaran itu diibaratkan sebagai kuliah, berarti sekarang kita sudah berada di semester kedua.
Di semester pertama beberapa waktu yang lalu, semua masih berjalan begitu mulus dan polos. Kita masih sibuk saling mengenal lebih jauh satu sama lain. Kita juga masih terlalu sibuk menjaga image masing-masing. Dan kita pikir, hari-hari yang kita jalani semuanya terasa indah karena kita selalu bersama.
Pongkykuygbaik pernah mengatakan suatu hal yang sangat konyol, dia takut saat-saat semester berganti. entah kenapa? saya pikir semester yang berganti tidak akan mempengaruhi perasaan saya padanya. haha.
Lihat, sekarang kita sudah memasuki semester kedua. tapi karena keistimewaan kita, baru semester kedua sudah diberi ujian magang. Ya, kita diberi ujian Long Distance Relationship selama enam bulan kedua. Seperti yang dia bilang, ujian ini diadakan untuk mengetahui seberapa besar dan tangguh cinta kita. Ouuwhh, gile bener bahasanya. Jika kita sukses melewatinya dengan nilai yang tinggi, insyaallah kedepannya kita berada di tingkat aman pertama.
Semoga saja kita dapat melewati ujian-ujian di semester berikutnya dengan baik dan lempeng ya, sayang.
Ya tuhan, jika pacaran itu benar-benar kuliah, aku relaaa jadi mahasiswa abadinya. hahaii.
Atau tiga pilihan lain, lulus tepat waktu (rumah tangga menanti), Drop Out (lo, gue, end.), atau pindah universitas (khianat). Kamu pilih yang mana?

Senin, 03 Oktober 2011

JOGJA : Selalu Ada Saat Yang Pertama Kali

Selalu ada saat yang pertama kali. Dan jogja adalah saat pertama kali kami bertraveling berdua. Iyah hanya berdua saja. Sebenarnya kami agak males juga untuk menceritakan traveling kami yang satu ini. Tetapi bagaimanapun juga dari traveling inilah awal mula ide kami untuk melakukan traveling-traveling selanjutnya berdua saja. Dan dari perjalanan ini pula kita mengetahui kesamaan diantara kita yang sangat mendukung untuk bertraveling. Seperti kami sama-sama menyukai hal-hal yang spontan, kami suka melewati jalan-jalan tikus, kami juga suka going nowhere kalo lagi stuck, suka nyanyi-nyanyi tidak jelas sepanjang jalan, dan kami selalu mencari buah Cherries kemanapun kami pergi.
Perjalanan ke jogja diawali dari spontanitas. Sebelum ke Kota Pelajar itu, kurang dari seminggu sebelumnya kami pergi ngebolang sendiri-sendiri. Cora naik ke Gunung Ciremai, dan saya mendaki Puncak Mahameru. Siang hari saat kami bertemu lagi di Semarang, terbersitlah keinginan untuk pergi berdua, dan jogja adalah destinasi prioritas kami saat itu. Sore harinya kami berangkat dari Semarang pake bus ekonomi. Yaaahh lagi lagi ekonomi. Setelah sampai di jogja kami mengontak teman-teman kami untuk menginap. Saya menginap kosan teman, demikian juga dia. Jadi ke kosan teman saya dulu sebelum saya mengantar Cora ke penginapan barunya dengan motor pinjaman. Jarak antar penginapan kami lumayan jauh. Sekitar lima belas menit dengan sepeda motor.
Pagi-pagi “bukan buta” kami langsung ke Sunmor. Sunmor atau kepanjangan dari Sunday Morning merupakan momen dan acara tempat nongkrongnya pemuda pemudi jogja yang terletak di Wilayah Kampus UGM. Karena kesiangan jadi suasananya sudah panas. Dan kami tidak betah lama-lama di tempat itu. Karena Sunday Morning telah berubah menjadi Sunday At Noon. Alias Sunmor menjadi Sunat. Tanpa arah dan tujuan yang jelas kami berkeliling jogja dengan motor pinjaman. Kamipun sempat singgah di Malioboro untuk makan siang dan susur mall. Karena motornya mau dipakai teman saya, maka dengan beban tidak ringan di hati kamipun mengembalikannya. Ahirnya sore hari kami melanjutkan acara traveling kami menggunakan transportasi umum. Untung ada Trans Jogja, sehingga pergi kemanapun di jogja jadi lebih gampang.
Sore itu masih di hari minggu kami berencana ke Parang Tritis. Pantai ini sebenarnya biasa-biasa saja, pasirnya tidak berkarakter, pantainya tidak terlalu panjang, dan landscapenyapun tidak begitu bagus. Satu-satunya alasan yang mempuat pantai ini begitu ngetop adalah karena Parang Tritis merupakan pantai yang terdekat dengan kota Jogja. Bis Trans Jogja hanya bisa mengantarkan kami sampai di Terminal Giwangan di selatan Jogja. Untuk mencapai Parang Tritis kami perlu menggunakan bis lagi. Karena saat itu senja sudah semakin petang, maka kamipun pikir-pikir untuk ke Parang Tritis. Padahal tujuan awal kami adalah ngeliat Sunset dari Parang Tritis. Sebelum kembali ke keramaian kota jogja, kami sempat makan malam di warung sekitar terminal. Karena dompet tipis, kami makan seragam yaitu nasi rames. Dan ternyata nasi rames yang dihidangkan oleh pedagang begitu lengkap, pake ayam goreng dan rendang segala. Jadi batal deh mau berheman. Haaaahhh
Malam hari kami kembali ke Malioboro. Kami jalan jalan, dari utara ke selatan, mondar-mandir, bolak-balik, kesana-kemari, dan ujungnya ya disitu-situ aja. Tapi perjalanan ini tidak terasa membosankan. Yaah apalagi alasannya kalau bukan karena bidadari cantik yang setia menemani saya. Setelah kami mulai lelah dan malam telah larut, kami bingung mau menginap dimana. Kalau mengontak teman saya sih masih mungkin karena kosan cowok, tetapi Cora menginap di mana?. Daripada beribut masalah penginapan mending kita foto-foto di depan Jam Gede di daerah Malioboro yang saat itu menunjukan jam setengah dua dini hari. Kami pikir foto itu akan menjadi kenang-kenangan yang bagus di kemudian hari. Ahirnya masalah penginapan kembali menghantui kami. Saya menyarankan untuk mencari penginapam yang murah untuk dua kamar, atau satu kamar biar nanti saya tidur di bawah. Tetapi Cora menyarankan tidur di Warnet, biar lebih ekonomis katanya. Ahirnya kami sepakat Akan beristirahat di Warnet. Karena Malioboro adalah daerah wisata, maka teramat sulit untuk menemukan warnet di sekitar sini. Setelah tanya-tanya tentang keberadaan si warnet, kamipun mendapatkan petunjuk dari seorang tukang becak tentang keberadaan warnet di sekitar Malioboro. Si tukang becak itu menawarkan jasanya mengantar kami ke warnet dengan harga sepuluh ribu rupiah. Karena sudah pengen tidur kami langsung mengiyakan penawaran si tukang becak. Tetapi ternyata warnet yang di maksud oleh si Tukang Becak ternyata sudah tutup. Yaahh alhasil kamipun muter-muter nyari tu warnet. Rasanya tidak tega juga melihat si tukang becaj yang sudah tidak muda lagi mengayuh becak tengah malam begitu. Setelah berkeliling dengan becak selama kurang lebih setengah jam, ahirnya kamipun menemukan warnet. Kamipun langsung membayarkan hak si Tukang Becak dengan harga yang telah ditetapkan sebelumnya yaitu Rp 10.000. Kami melihat ekpresi sangat kecewa di wajah pengayuh becak itu. Tetapi dia tidak protes, melainkan langsung pergi dengan muka lusuhnya. Saat itu kami sadar betapa jahatnya kami, betapa jahatnya PONCOL!.
Kali ini beneran pagi-pagi buta kami keluar dari warnet dan mencari bis untuk ke Parang Tritis. Dari halte bus Malioboro, kami menggunakan bus untuk mencapai misi kami yang kemaren sore tertunda. Yap benar sekali Parang Tritis. Perjalanan kami ke Parang Tritis berlangsung kurang mulus. Karena di malam sebelumnya kami kurang tidur, maka di dalam bis kami tidur. Saat terbangun kami sadar kalau orang-orang di bus sudah berbeda jenis. Dan itu nberlangsung berkali-kali. Kami sudah tidak memperhatikan lagi bentuk kami yang sudh buruk rupa, dan tatapan anak SMA yang seakan menelanjangi kami. Bodoooo. Kami ngantuk!. Ternyata kami sudah lebih dari 3 jam berada dalam bus yang sama. Entah sudah berapa puluh halte kami berhenti, dan sudah berapa kali kami putar-putar jogja dengan bus yang sama. Ahirnya di siang bolong kami sampai juga di Parang Tritis. Perjuangan kami ternyata cukup sia-sia, selain pemandangan yang kurang bagus karena memang sudah siang, Panasnya matahari di pantai selatan Jawa inipun membuat kami kegerahan. Kalo bukan sama Cora, saya ogah deh siang-siang gitu jalan di Parang Tritis.
Buat kami jogja itu tetap indah. Tetap salah satu kota paling berkarakter di Indonesia. Mungkin suatu saat kami akan kembali lagi kesana dengan cerita dan perjalanan yang berbeda. Its About The Journey And The Destination. Go Go Travelmates.....!!!