Jumat, 04 Januari 2013

Caving di Goa Cerme Jogja

Rasanya masih ada yang kurang seusai kami berarung-jeram ria di Magelang. Maka sore itu juga kami berenam melaju ke Jogja dengan semangat bertualang yang masih menggebu-gebu. Kami menempuh satu jam perjalanan dengan macet yang nggak ada henti-hentinya terutama di kota Jogja pada malam minggu. Selain bermacet-macet ria di jalan, malam minggu itu kami habiskan dengan makan dan nongkrong di alun-alun selatan keraton Jogja.
Masalah bermalam dimana sih aman, karena di Jogja kami punya banyak teman dan kenalan. Kali ini kami memilih untuk bermalam di kontrakan temannya Pongky, yang kuliah di UIN Jogja. Malam ini kami nggak boleh tidur kemaleman, karena besok pagi-pagi mau melanjutkan perjalanan ke Goa Cerme. Iya, kami mau caving  (susur goa) di Goa Cerme. Goa Cerme terletak tidak jauh dari pantai Parangtritis. Terletak di antara kabupaten Bantul dan kabupaten Gunung kidul.

Sebelum masuk bayar dulu, dab!
Ready to go!
(start di dudun Srunggo, Bantul)
I'm the most beautiful here :P
Di bawah kaki kami itu ada air terjun lho
Yang bawa gadget hati-hati ya, airnya lumayan dalem,
terus mesti nunduk-nunduk kayak gini beberapa kali.
Tuh kan, nunduk lagi
Batu cantik yang bersinar seperti berlian
(orangnya juga cantik dan bersinar seperti berlian, hahaha #ssstt, ga usah protes!)
Perjalanan masih panjang, tetap jaga stamina, guys.
Dan ingat, jangan tergesa-gesa, nyantai aja.
Finish Point! (tembus di Panggang, Gunung Kidul)
 Harga tiket masuk ke goa ini cukup murah, yaitu Rp. 2.250,-/perorang. Ditambah sewa headlamp Rp. 5.000,-/buah, dan sewa pemandu Rp. 30.000,-. Perjalanan dari awal sampai akhir ini membutuhkan waktu selama 1,5 jam, dengan jarak sepanjang 1,2 km.

Yang harus dibawa saat menyusuri goa:
-Alat penerangan
-Alas kaki
-Air minum
-Kamera yang bisa digunakan dalam kondisi gelap gulita
-Rasa ingin tahu dan pikiran yang terbuka
-Kondisi tubuh yang baik
-Jangan bawa barang-barang yang tidak berguna, karena hanya akan menjadi beban.

Kamis, 03 Januari 2013

Rafting di Elo Bersama ROCKERCLIMBER

Bulan Desember adalah musim hujan dimana arus sungai menjadi lebih deras dari biasanya, dan menjadi  bulan yang tepat untuk melakukan kegiatan arung jeram bersama teman-teman. Kegiatan inilah yang dilakukan anak-anak 26MataBoa di ujung bulan Desember sekaligus di ujung tahun 2012 kemarin. Tadinya sih ada sekitar 10 orang lebih yang mau ikut gabung, tapi kesini-sininya pada banyak yang nggak jadi karena berbagai halangan. Ok, the show must go on! Akhirnya yang fix ikut cuma kami berlima, di tambah satu fasilitator dari ROCKERCLIMBER, yaitu Pongky. (Iya, Pongky travelmate aku, bukan Pongky yang lain.)
Karena kami cuma berlima, sementara satu perahu memuat enam orang, jadi si Pongky juga ikut pengarungan. Ya lumayan lah, nambah satu orang lagi buat jadi penggembira. Hehehe.
Rencana awal lokasi pengarungan kami adalah sungai Progo atas yang mempunyai grade II hingga III. Tapi katanya Progo arusnya lagi nggak bagus. Okelah, mau nggak mau beralih ke plan B yaitu Sungai Elo, Magelang. Yang juga mempunyai grade II hingga III, cocok untuk pemula/keluarga.

narsis sebelum pengarungan
Start di bawah jembatan Blondho
Jeram yang selalu ditunggu-tunggu. hheheu.
2,5 jam pengarungan pun berakhir
Abis ngarung, mandi, terus makan mewah deh! :P
Asyik kan?
Teman-teman kalo pengen seru-seruan kayak kami mudah kok. Tinggal buka aja alamat web ROCKERCLIMBER atau klik disini terus pilih paket rafting yang kalian mau. Kemudian...hubungi CP atau email yang tertera disana. Dijamin nggak bakal kecewa deh, soalnya ROCKERCLIMBER mengutamakan kenyamanan dan kepuasan para costumernya.
Jangan ragu lagi ya, selamat berarung jeram. :)

Rabu, 02 Januari 2013

Biaya Backpacker ke Malang

BUS PATAS
Pengalaman kena tipu sama agen bis beberapa waktu lalu, bikin kita pengen berbagi informasi tentang transportasi umum kalo mau backpackingan ke Malang, khususnya dari Semarang. Waktu itu kita disuruh bayar dua kali lipat dari tarif bis normal. Karena waktu sudah sangat malam, dan bis yang akan ditumpangi itu bis terakhir, kami nggak sempat mikir panjang. Dan...baru nyadar dibegoin pas udah dalam perjalanan. Apes kan?

Buat kalian yang mau backpackingan ke Malang, ini nih daftar biaya transportasinya:

> Semarang-Surabaya/ Surabaya-Semarang
 BIS PATAS : Rp.55.000,-
 BIS EKONOMI :  Rp.40.000,-

> Surabaya-Malang/ Malang-Surabaya
BIS PATAS : Rp. 20.000,-
BIS EKONOMI : Rp. 10.000,-

> Semarang-Malang/ Malang-Semarang
KERETA API  (MATARMAJA) : Rp. 55.000,-
BIS PATAS : Rp. 75.000,-

Jip di Tumpang
> Malang-Tumpang (kalo mau ke Bromo atau Semeru)
ANGKOT : Rp. 6.000,-

> Tumpang-Bromo/Semeru
JIP : Rp. 35.000,-/orang kalo rombongan
        Rp. 450.000,-/JIP
(transportasi umum yang tersedia cuma jip, jadi kalo nggak rombongan sebaiknya jangan lewat jalur Malang-Tumpang. Mahal cuy!)

> Malang-Batu (kalo mau ke Kota Batu)
ANGKOT : Rp. 6.000,-
(sebaiknya pakai kendaraan pribadi atau sewa mobil/ motor, karena obyek wisata di Batu sangat banyak dan tempatnya berjauhan.)

Kalo kami sih cuma berdua, jadi yang paling simpel ya rental motor. hehe.
RENTAL MOTOR : Rp. 55.000,- (motor bebek) (umum)
                                 Rp. 65.000,- (motor matic) (umum)

Nah, kalo udah tau tarif normal seperti yang di atas, jangan sampe kena tipu lagi ya, terutama sama calo-calo yang nggak bertanggungjawab di terminal/ stasiun. Selamat jalan-jalan, dan salam backpacker! :D

Selasa, 01 Januari 2013

Semarak Kota Wisata Batu

Dalam rangka libur tenang, kami mencoba menerapkan apa yang disebut 'blind traveling'. Di mana destinasi perjalanan kami adalah Malang, tapi di Malang nggak tau mau kemana dan mau ngapain. Ya, keren dan bodoh memang beda tipis.
Namun sebuah ilham akhirnya membawa kami ke Kota Wisata Batu yang semarak, cantik, strategis, dan sangat ramai di kunjungi saat liburan. Kota ini terletak sekitar 24 km dari Malang. Karena kami merental motor, waktu yang dibutuhkan untuk sampai kesini tidak lebih dari 1 jam.
Kayaknya kami nggak perlu panjang lebar, karena foto-foto dibawah ini cukup untuk mendeskripsikan kecantikan Kota Batu.


So, just check out the photos:
Apel, simbol kota Batu
Alun-alun kota Batu dengan latar gunung Panderman
Apel dimana-mana.
Taman Rekreasi Selecta
Eco Green Park
Batu Secret Zoo
Eco Green Park
Jatim Park II
Museum Satwa
Dinosaurus, men!
Berbagai satwa lengkap
Keramaian Jatim Park II saat weekend
Bantengan: Arak-arakan kesenian tradisional khas Malang
Pelakon yang bakal dibikin kesurupan
The last, pemandangan kota Batu dari atas gunung Panderman.

Minggu, 16 Desember 2012

How Comes to be the Ultimate Travelmate?


Kita masih the ultimate travelmate kok, beneran masih, ya walaupun kadangan juga traveling sendiri-sendiri. Contohnya kayak bulan lalu, aku (Cora) traveling bareng anak-anak 26MataBoa tanpa Pongky. Waktu itu Pongky sedang sibuk PBL di Demak. Jadi sewaktu mereka ngajak pergi ya aku ayo-ayo saja.

Pamer dikit nggak pa-pa ya, sayang :P
Namun kali ini aku bukan mau mengulas perjalanan ke Taman Nasional Baluran. Cuma mau sedikit saja bicara tentang kita berdua. #eaaakkk

Aku dan Pongky bertemu pertama kali pada akhir Februari 2011. Waktu itu aku akan mengikuti pendidikan dasar rafting di mapala universitas kami. Karena nggak punya carrier, waktu itu aku minjem carrier punya seorang kakak senior, dengan perantara temannya yang bernama Pongky. Ya, carrier kakak senior itu juga sedang dipinjam oleh Pongky. Hahaha. Entah kenapa semakin kesini kami semakin akrab, dan menemukan beberapa kesamaan minat. 
Aku adalah mahasiswa UNDIP yang sempat frustasi dengan jurusanku sendiri. Aku suka perjalanan, hal-hal yang berkaitan dengan alam, gunung dan pantai. Selain itu aku juga suka seni. Aku suka nyanyi sambil main gitar, suka keindahan lukisan, dan antusias terhadap fotografi. Ya, walaupun aku bukan penyanyi, gitaris, pelukis, ataupun fotografer. Sebenarnya aku bisa disebut sebagai penulis, karena aku sudah melahirkan sebuah buku karanganku sendiri. Impianku selanjutnya juga menjadi seorang travelwriter. Bagiku, menulis adalah kewajiban yang tidak boleh ditinggalkan, baik itu menulis cerita, novel, catatan harian, artikel, maupun menulis di blog pribadi.
Sementara Pongky adalah mahasiswa pekerja keras (aseeek) dari universitas yang sama, hanya saja kami berbeda jurusan dan dia dua tingkat lebih tua dariku. Pongky juga seorang pecinta alam, suka perjalanan dan hal-hal yang berkaitan dengan alam. Namun bedanya, dia lebih super dariku, dan dia suka berenang (aku nggak bisa berenang T.T). Pongky juga suka seni, khususnya musik. Dia main gitarnya jago banget. Kalo dia main gitar, aku jadi tukang nyanyinya. Sementara kalo aku yang main gitar, yang jadi tukang nyanyinya...tetep aku. Pongky sangat berminat dalam dunia fotografi. Jadi kalo kami traveling, dia yang jadi fotografernya, sementara aku yang meliput detail perjalanannya dan menuliskannya kembali. Pongky ini punya passion yang sangat kuat dalam bidang kewirausahaan. Sampai saat ini dia sedang mengembangkan bisnis yang sudah dijalankannya sejak setahun terakhir, yang juga berhubungan dengan kegiatan outdoor dan traveling. 

Selain kesamaan, banyak juga perbedaan lainnya antara aku dan dia. Bahkan nggak sedikit sifat kami yang bertolak belakang. Namun perbedaan itu membuat kami saling melengkapi satu sama lain.

Maka dari sanalah aku menetapkan Pongky sebagai teman perjalananku, dan Pongky menetapkan aku sebagai teman perjalanannya. Dengan menyatukan minat yang sama, saling melengkapi kekurangan, dan memaklumi perbedaan, we will be the ultimate travelmate!

Sekian :))


Jumat, 14 Desember 2012

Dieng Plateau (lagi) dan Sembungan, Desa Tertinggi di Pulau Jawa



Coz I remember every sunset, I remember every word you say~
we will never gonna say goodbye, say la ta ta ta taa~
Till we had to get back to, back to summer paradise with you~
I'll be there in the heartbeat~
Wooh, I'll be there in the heartbeat~




Sabtu (08/12) yang lalu, the ultimate travelmate kembali mengunjungi Kawasan Dieng Plateau untuk yang kedua kalinya. Bedanya kalo setahun yang lalu naik bis, kali ini kami naik motor sendiri. Kalo setahun yang lalu cuma liat-liat telaga warna, goa-goa, sama kawah Sikidang, sekarang kami ingin melihat golden sunrise di bukit Sikunir. Dan kalo setahun lalu masih agak-agak jadul, sekarang udah lebih modern. -___-
Kami berangkat dari Semarang jam 9.30 pagi dan sampai ke Dieng jam 15.30 sore, dengan berbagai rintangan salah satunya ban motor pecah di Ambarawa. Belum sampai ke Dieng, kami mampir dulu makan siang di alun-alun Wonosobo. Menu makan siang kami kali ini adalah:
Tarraaaa...!!! ini dia salah satu kuliner khas Wonosobo dan Dieng, MIE ONGKLOK.
Harganya 5000 doang perporsi, tapi kalo nambah sate sapi setusuknya 1000.
(Dalam rupiah lho, bukan dollar)
Sampai di Dieng, kami tidak langsung menuju bukit Sikunir yang terletak di Desa Sembungan, tapi mampir dulu di kawasan candi Arjuna dengan tujuan nyari WC umum, shalat, hunting-hunting foto dan tentunya menikmati keindahan candi.


Ini dia pelataran candi Arjuna yang di penuhi pohon Cemara.
Penampakan candinya sendiri dapat dilihat pada foto paling atas postingan ini.
Nah, setelah memuaskan diri di kawasan candi Arjuna, kami segera melanjutkan perjalanan ke desa Sembungan yang akan ditempuh selama setengah jam lagi dari tempat ini. Bagi yang belum tahu, Desa Sembungan itu adalah desa tertinggi di Pulau Jawa lho. Jadi dinginnya subhanallah, hampir seperti di puncak gunung!
Jam 18.30, sehabis maghrib, kami sampai di desa Sembungan. Untuk ngecamp atau mendaki di kawasan ini, kami harus membayar tiket masuk dulu di pos, kalo tidak salah bayarnya 3000 perorang. Setelah bayar, penjaga di pos membantu kami untuk menyimpan motor di tempat yang aman. Ada dua opsi lokasi ngecamp yang cihuy, yang pertama di tepi telaga Cebong, dan yang kedua di puncak Sikunir. Sebenarnya sih kami lebih tertarik ngecamp di kawasan telaga Cebong, karena pemandangan telaga ini sangat indah dan tidak terlalu banyak angin dan kabut seperti di puncak. Tapi karena takut kesiangan dan ketinggalan momentum sunrise, kami memutuskan untuk ngecamp di puncak. Tanpa mengulur waktu lagi kami segera memulai pendakian menuju puncak Sikunir. Ternyata kami hanya membutuhkan waktu 30 menit untuk sampai ke puncaknya, benar-benar waktu yang tidak seberapa dibandingkan mendaki gunung-gunung lainnya. (Ya iya lah ya! namanya juga bukit, bukan gunung.)
Mungkin karena waktu itu malam minggu, jadi puncak dipenuhi dengan para pendaki lainnya. Kira-kira ada 10 tenda yang memenuhi puncak Sikunir pada malam itu. Kami sendiri memilih mendirikan tenda di tempat yang agak tersembunyi dari tiupan angin. Namun rasa dingin tidak juga hilang karena Sleeping bag yang harusnya membungkus badan beralih fungsi jadi matras. Ya, itulah salah satu kebodohan kami, bawa tenda tapi matrasnya tidak dibawa. Jadi aku harus puas hanya dengan mengenakan baju ditambah dua jaket, kupluk, sarung tangan dan kaos kaki tipis.
Sekitar jam setengah 6 pagi, kami bersiap-siap untuk menyaksikan sunrise. Sayang, terlalu banyak kabut dan awan tebal, sehingga kami tidak dapat menyaksikan golden sunrise ini dengan sempurna.
ini dia sebagian kecil dari momen golden sunrise yang kami saksikan.
Ketutupan awan ya... hiksss.
Beberapa jam kami habiskan untuk menikmati keindahan sunrise, gunung Sindoro yang menjulang tinggi di depan mata, pegunungan yang berlapis-lapis, dan perkampungan Dieng yang tampak dari puncak. Setelah puas, kami mulai beres-beres, dan turun dari bukit.
Inilah telaga cebong, dan bukit Sikunir yang berada di antara bukit-bukit lainnya (yang di tengah).
Selamat tinggal Desa Sembungan... selamat tinggal... selamat tinggal....
Belum puas dengan candi Arjuna dan puncak Sikunir, kami kembali menjelajahi kawasan sekitar kawah Sekidang. Di sini banyak terdapat jualan yang hampir menyerupai pasar. Aku sendiri membeli oleh-oleh buah carica khas Dieng, dan terong Belanda sebanyak satu kilo (gram ya, bukan meter). Kemudian disini kami juga sarapan dengan nasi goreng dan berbagai gorengan hangat. Pokoknya masakannya enak-enak deh, ciyuusss!
Oh iya, cerita tentang anak dengan rambut gimbal alami itu ternyata benar lho. Haha. Kami telah menyaksikan sendiri dua orang anak perempuan yang benar-benar berrambut gimbal, dan dua-duanya masih berusia kira-kira 8 tahunan. Fenomena seperti ini konon hanya terjadi di Dieng, dan mereka itu masih keturunan leluhurnya Dieng. Katanyaaa...
Menuju kawah Sikidang...
Penjelajahan kami di Dieng berakhir sampai disini, karena masih banyak urusan yang setia menanti di Semarang, khususnya buat Pongky. Setelah membeli bekal untuk perjalanan pulang di indomaret, kami langsung capcusss, kembali ke Semarang tercinta. <3

Selasa, 13 November 2012

Weekend Santai di Ungaran

Mungkin bagi teman-teman yang belum pernah ke Semarang atau yang tidak berdomisili di Semarang masih asing mendengar nama Ungaran. Memang, gunung yang satu ini tidak begitu tinggi dan sifatnya tidak berapi. Ungaran memiliki ketinggian 2050 mdpl. Gunung ini merupakan tujuan utama kami kalau mau minggat dari penatnya keramaian kota dan pusingnya memikirkan nasib dan masa depan dan apapun itu namanya. Atau kalau ada acara sama teman-teman pasti lokasinya berada di sekitar Ungaran, karena letaknya memang paling dekat dari tempat kami (UNDIP Tembalang). Dengan kata lain, Ungaran adalah destinasi paling tepat untuk weekend disaat kantong lagi kering. Nah, tidak hanya dengan teman-teman, Ungaran juga sangat cocok menjadi lokasi trekking sama pacar. Treknya yang tidak begitu ekstrim, membuat kita dapat bersantai dan menikmati pendakian sama dia. #ahay!
Bagi yang tidak berminat mendaki sampai puncak, bisa bermalam di kampung Promasan. Bisa membawa dome atau nginap di basecamp rumah pak Min yang sangat terkenal disana. Untuk mencapai kampung Promasan dari pos 1 Mawar (lewat Umbul Sidomukti, Bandungan), kita cukup mendaki selama 1,5 jam.
Ini dia Kampung Promasan yang hanya memiliki 18 kepala keluarga,
dan puncak Ungaran yang gagah di pagi hari
Pagi-pagi buta udah nongkrong, ngemil sambil menikmati udara dan pemandangan kebun teh Promasan.
 Kalo udah begini rasanya jadi awet muda terus lho. Hehe. Rasanya jadi pengen tinggal di Promasan selama beberapa minggu. Atau nanti KKL disini aja? hahaha.

Di belakang kami itu Goa Jepang lho...
Di Promasan ada banyak situs-situs sejarah. Salah satunya adalah Goa peninggalan Jepang. Hati-hati aja kalo masuk goa ini dalam keadaan hujan atau sangat lembab. Lintah dan pacet ada dimana-mana!
Selain goa ini peninggalan lainnya adalah Candi Promasan dan sumber air yang sakral yang sudah ada sejak jaman kerajaan Pandanaran. #eh, iya kan ya? atau bukan?
Senyumnya manis banget sih mas :D

Dua sejoli (Mbak Maria&Mas Icang) lagi maling buah  mulberry milik Pak Min
#mullberry atau blueberry sih??

Masak sarapan sendiri di rumah Pak Min. Anggap aja rumah sendiri...
Nah, ini nih salah satu kelebihan lain bermalam di rumah Pak Min. Kalo lagi sepi, kita bisa masak sendiri dengan leluasa di rumahnya (yang sudah alih fungsi jadi basecamp para pendaki) tentunya bayar. Bayarnya tergantung apa yang dimasak. Harganya sama seperti di warteg-warteg biasa kok. Terus kalo bermalam perorang dikenai Rp.2000,-
Hampir sampai ke Puncak

Hampir puncak (1900 mdpl), pose dulu.
Setelah berpose seperti tersebut diatas, tiba-tiba angin tebal datang menyelimuti daerah sekitar puncak. Semuanya menjadi kelabu. Karena khawatir dengan kondisi cuaca ini, akhirnya pendakian kami hentikan dan kami turun lagi hingga tiba di Pos 1 Mawar.


Nah, buat teman-teman yang ada di sekitar Semarang dan belum pernah merasakan keindahan Ungaran, tunggu apa lagi? nunggu sampai cabut dari Semarang, atau nunggu sampai jadi kakek nenek? hahaha.